pskb A1

pskb A1
akbid bina husada

Kamis, 09 Februari 2012

CARA DETEKSI DINI KOMPLIKASI PADA NIFAS DAN PENANGANANNYA


Masa nifas adalah masa setelah persalinan yang diperlukan untuk pulihnya kembali alat-alat kandungan seperti sebelum hamil yang berlangsung selama 6 minggu. Komplikasi masa nifas adalah keadaan abnormal pada masa nifas yang disebabkan oleh masuknya kuman-kuman ke dalam alat genitalia pada waktu persalinan dan nifas.
Masa nifas merupakan masa yang rawan bagi ibu, sekitar 60% kematian ibu terjadi setelah melahirkan dan hamper 50% dari kematian pada masa nifas terjadi pada 24 jam pertama setelah melahirkan, diantaranya disebabkan oleh adanya komplikasi masa nifas. Selama ini perdarahan pasca persalinan merupakan penyebab kematian ibu, namun dengan meningkatnya persediaan darah dan system rujukan, maka infeksi menjadi lebih menonjol sebagai penyebab kematian dan morbiditas ibu.
Patologi yang sering terjadi pada masa nifas adalah sebagai berikut.
1.       Infeksi nifas
2.       Perdarahan dalam masa nifas
3.       Infeksi saluran kemih
4.       Patologi menyusui
INFEKSI MASA NIFAS
Infeksi puerperalis adalah infeksi pada traktus genitalia setelah persalinan, biasanya dari endometrium bekas insersi plasenta. Pada umumnya disebabkan oleh bakteri aerob dan anaerob, yaitu:
ü  Streptococcus haemolyticus aerobicus
ü  Staphylococcus aereus
ü  Escherichia coli
ü  Clostridium welchii
Setelah kala III daerah bekas insersio plasenta merupakan sebuah luka dengan permukaan yang tidak rata, daerah ini merupakan tempat yang baik uuntuk berkembangnya bakteri. Begitu juga serviks, vulva, vagina dan perineum yang sering mengalami perlukaan pada persalinan. Semua ini merupakan tempat masuk/berkembangnya kuman pathogen.
a.       Gejala klinis
Infeksi puerperalis di bagi dalam dua golongan yaitu sebagai berikut
1)      Infeksi terbatas
Infeksi yang terbatas pada perineum, vulva , vagina, serviks, dan endometrium.
·         Vulvitis→Pada infeksi bekas sayatan episiotomy atau luka perineum jaringan sekitarnya membengkak, tapi luka menjadi merah dan bengkak, jahitan mudah lepas, serta luka yang terbuka menjadi ulkus dan mengeluarkan pus.
·         vaginitis→infeksi vagina dapat terjadi secara langsung pada luka vagina atau melalui perineum. Permukaan mukosa membengkak dan kemerahan, terjadi ulkus, serta getah mengandung nanah yang keluar dari daerah ulkus. penyebaran dapat terjadi, tetapi pada umumnya infeksi tinggal terbatas.
·         servisitis→infeksi serviks sering juga terjadi, tetapi biasanya tidak menimbulkan banyak gejala. Luka serviks yang dalam dan meluas dapat langsung ke dasar ligamentum latum sehingga menyebabakan infeksi menjalar ke parametrium. Gejala klinis yang dirasakan pada servisitis adalah sebagai berikut.
-          Nyeri dan rasa panas pada daerah infeksi
-          Kadang perih bila BAK
-          Demam dengan suhu badan 39 oC-40 oC
2)      Infeksi yang menyebar
Penyebaran infeksi ini dapat melalui pembuluh darah, limfe, dan permukaan endometrium (tromboflebitis, parametritis, salpingitis, dan peritonitis)
·         Tromboflebitis→Penjalaran infeksi melalui vena sering terjadi dan merupakan penyebab terpenting dari kematian karena infeksi puerperalis. Radang vena golongan 1 disebut tromboflebitis pelvis dan infeksi vena-vena golongan 2 disebut tromboflebitis femoralis.
-          Tromboflebitis pelvis. Yang sering meradang adalah vena ovarika karena mengalirkan darah dan luka bekas plasenta di daerah fundus uteri. Penjalaran tromboflebitis pada vena ovarika kiri adalah ke vena renalis dan dari vena ovarika kanan ke vena kava inferior.
-          Tromboflebitis femoralis. Dapat menjadi tromboflebitis vena safena magna atau peradangan vena femoralis sendiri, penjalaran tromboflebitis vena uterin, dan akibat parametritis. Tromboflebitis vena femoralis mungkin terjadi karena aliran darah lambat di daerah lipat paha karena vena tersebut yang tertekan oleh ligamentum inguinale, juga karena dalam masa nifas kadar fibrinogen meningkat.
·         Peritonitis. Infeksi puerperalis melalui saluran getah bening dapat menjalar ke peritoneum hingga terjadi peritonis atau ke parametrium menyebabkan parametritis
·         Parametritis (cellulitis pelvic). Parametritis dapat terjadi dengan tiga cara berikut ini.
-          Melalui robekan serviks yang dalam
-          Penjalaran endometritis atau luka serviks yang terinfeksi melalui saluran getah bening
-          Sebagai lanjutan tromboflebitis pelvis
Jika terjadi infeksi parametrium, timbullah pembengkakan yang mula-mula lunak, tetapi kemudian menjadi keras kembali dengan gejala klinis sebagai berikut.
-          Uterus agak membesar dan lembek
-          Nyeri pada perabaan
-          Suhu tubuh 39 oC-40 0C
-          Nadi cepat dan menggigil
-          Lochea banyak dan berbau
b.      Penatalaksanaan
Di samping pemberian antibiotic dalam pengobatan infeksi puerperalis masih diperlukan beberapa tindakan khususuntuk mempercepat penyembuhan infeksi tersebut.
1.       Penatalaksanaan luka perineum, vulva, dan vagina
Luka menjadi nyeri, merah, dan bengkak. Jika terjadi infeksi luka luar, maka biasanya jahitan diangkat supaya ada drainase getah-getah luka atau lakukan kompres.
2.       Penatalaksanaan endometrisis
Pasien sebisa mungkin di isolasi, tapi bayi boleh terus menyusu pada ibunya. Untuk kelancaran pengeluaran lochea, pasien boleh diletakakan dalam posisi fowler dan di beri uterostonica serta di anjurkan banyak minum.
3.       Penatalaksanaan tromboflebitis pelvis dan femoralis
Tujuan terapi pada tromboflebitis adalah sebagai berikut.
·         Mencegah emboli
·         Mengurangi akibat-akibat tromboflebitis (edema kaki yang lama, perasaan nyeri ditungkai)
Pengobatan dengan antikoagulan (heparin, dicumarol) bermaksud untuk mengurangi terjadinya thrombus dan mengurangi bahaya emboli.
4.       Penatalaksanaan peritonitis
Antibiotic di berikan dengan dosis yang tinggi. Untuk menghilangkan gembung perut di beri obat miller tube. Cairan di beri perinfus, transfusi darah, dan oksigen juga baik. Pasien diberi obat sedative untuk menghilangkan rasa nyeri. Makanan dan minuman di berikan setelah ada flatus.
5.       Penatalaksanaan parametritis
Pasien di beri antibiotic dan jika terdapat fluktuasi perlu dilakukan incise di atas lipat paha atau pada cavum dauglasi.
PERDARAHAN DALAM MASA NIFAS
Penyebab perdarahan dalam masa nifas adalah sebagai berikut.
1.       Sisa plasenta dan polip plasenta
Sisa plasenta dalam nifas menyebabakan perdarahan dan infeksi. Perdarahan yang banyak dalam nifas hampir selalu di sebabkan oleh sisa plasenta. Jika pada pemeriksaan plasenta ternyata jaringan plasenta tidak lengkap, maka harus dilakukan eksplorasi dari cavum uteri.
Potongan-potongan plasenta yang ketinggalan tanpa diketahui biasanya menimbulkan perdarahan postpartum lambat.
o   Terapi
Dengan perlindungan antibiotic sisa plasenta di keluarkan secara digital atau dengan kuret besar. Jika ada demam ditunggu dulu sampai suhu turun dengan pemberian antibiotic dan 3-4 hari kemudian rahim di bersihkan, namun jika perdarahan banyak, maka rahim segera di bersihkan walaupun ada demam.
2.       Endometritis puerperalis
Pada infeksi dengan kuman yang tidak seberapa pathogen, radang terbatas pada endometrium. Jaringan desidua bersama-sama dengan bekuan darah menjadi nekrosis dan mengeluarkan getah berbau yang terdiri atas keeping-keping nekrosis serta cairan. Pada batas antara daerah yang meradang dan daerah sehat terdapat lapisan yang banyak terdapat leukosit-leukosit.perdarahan biasanya tidak banyak,pengobatannya di beri obat antibiotic.
3.       Perdarahan oleh sebab-sebab fungsional
Hal yang termasuk  perdarahan oleh sebab-sebab fungsional antara lain sebagai berikut.
o   Perdarahan karena hyperplasia glandularis yang dapat terjadi yang berhubungan dengansiklus anovulatoris dalam nifas
o   Perubahan dinding pembuluh darah. Pada golongan ini tidak ditemukan sisa plasenta, endometritis, ataupun luka.
4.       Perdarahan karena luka
Kadang-kadang robekan serviks atau robekan rahim tidak didiagnosis sewaktu persalinan, karena perdarahan pada waktu itu tidak menonjol. Beberapa hari setelah postpartum dapat terjadi perdarahan yang banyak.
INFEKSI SALURAN KEMIH
Kejadian infeksi saluran kemih pada masa nifas relative tinggi dan hal ini di hubungkan dengan hipotoni kandung kemih akibat trauma kandung kemih waktu persalinan, pemeriksaan dalam yang terlalu sering, kontaminasi kuman dan perineum, atau kateterisasi yang sering.
Sistitis biasanya memberikan gejala berupa nyeri berkemih (disuria), sering berkemih, dan tak dapat menahan untuk berkemih. Demam biasanya jarang terjadi. Adanya retensi urine pascapersalinan umumnya merupakan tanda adanya infeksi.
Pielonefritis memberikan gejala yang lebih berat, demam, menggigil, serta perasaan mual dan muntah. Selain disuria, dapat juga terjadi piuria dan hematuria.
§  Pengobatan
Antibiotik yang terpilih meliputi golongan nitrofurantoin, sulfonamide, trimetoprim, sulfametoksazol, atau sefalosporin. Banyak penelitian yang emlaporkan resistensi mikrobakterial terhadap golongan penisilin.
Pielonefritis membutuhkan penanganan yang lebih awal, pemberian dosis awal antibiotic yang tinggi secara intravena, misalnya sefalosporin 3-6 gram/hari dengan atau tanpa aminoglikosida. Sebaiknya juga dilakukan kultur urine.
PATOLOGI MENYUSUI
Masalah menyusui pada umumnya terjadi dalam dua minggu pertama masa nifas. Pada masa ini, pengawasan dan perhatian petugas kesehatan sangat diperlukan agar masalah menyusui dapat segera ditanggulangi, sehingga tidak menjadi penyulit atau menyebabkan kegagalan menyusui.
MASALAH DALAM PEMBERIAN ASI
Birikut ini adalah masalah-masalah yang biasanya terjadi dalam pemberian ASI.
1.       Puting susu lecet
Sebanyak 57% ibu yang menyusui dilaporkan pernah menderita kelecetan pada puting.
a)      Penyebab lecet tersebut adalah sebagai berikut.
Ø  Kesalahan dalam tekhnik menyusui, bayi tidak menyusui sampai areola tertutup oleh mulut bayi. Bila bayi hanya menyusu pada puting susu, maka bayi akan mendapat ASI sedikit, karena gusi bayi tidak menekan pada sinus laktiferus, sedangkan pada ibunya akan menjadi nyeri/kelecetan pada putting susu.
Ø  Monoliasis pada mulut bayi yang menular pada puting susu ibu.
Ø  Akibat dari pemakaian sabun, olkohol,krim,atau zat iritan lainnya untuk mencuci putting susu.
Ø  Bayi dengan tali lidah yang pendek (frenulum lingue), sehingga menyebabkan bayi sulit menghisap sampai ke kalang payudara dan isapan hanya pada puting susu saja.
Ø  Rasa nyeri juga dapat timbul apabila ibu menghentikan  menyusui dengan kurang hati-hati.
b)      Penatalaksanaan
ü  Bayi harus disusukan terlebih dahulu pada puting yang normal yang lecetnya lebih sedikit. Untuk menghindari tekanan lokal pada puting,  maka posisi menyusu harus sering di ubah. Untuk puting yang sakit dianjurkan mengurangi frekuensi dan lamanya menyusui. Di samping itu, kita harus yakin bahwa tekhnik menyusui yang digunakan bayi benar, yaitu harus menyusu sampai ke kalang payudara. Untuk menghindari payudara yang bengkak, ASI dikeluarkan dengan tangan pompa, kemudian diberikan dengan sendok, gelas, dan  pipet.
ü  Setiap kali selesai menyusui bekas ASI tidak perlu dibersihkan, tetapi di angin-anginkan sebentar agar melembutkan puting sekaligus sebagai anti infeksi.
ü  Jangan menggunakan sabun, alkohol, atau zat iritan lainnya untuk membersihkan payudara.
ü  Pada puting susu bisa di bubuhkan minyak lanolin atau minyak kelapa yang telah dimasak terlebih dahulu.
ü  Menyusui lebih sering (8-12 kali dalam 24 jam), sehingga payudara tidak sampai terlalu penuh dan bayi tidak begitu lapar juga tidak menyusu terlalu rakus.
ü  Periksakanlah apakah bayi tidak menderita moniliasis yang dapat menyebabkan lecet pada puting susu ibu. Jika ditemukan gejala moniliasis dapat diberikan nistatin.
c)       Pencegahan
v  Tidak membersihkan puting susu dengan sabun, alkohol, krim, atau zat-zat iritan lainnya.
v  Sebaiknya untuk melepaskan puting dari isapan bayi pada saat bayi selesai menyusu, tidak dengan memaksamenarik puting, tetapi dengan menekan dagu atau dengan memasukkan jari kelingking yang bersih ke mulut bayi.
v  Posisi menyusu harus benar, yaitu bayi harus menyusu sampai kekalang payudara dan menggunakan kedua payudara.
2.       Payudara bengkak
Berikut ini akan dijelaskan mengenai terjadinya pembengkakan payudara pada ibu di masa nifas.
a)      Penyebab
Pembengkakan payudara terjadi karena ASI tidak disusui dengan adekuat, sehingga sisa ASI terkumpul pada system duktus yang mengakibatkan terjadinya pembengkakan. Payudara bengkak ini sering terjadi pada hari ketiga atau ke empat sesudah melahirkan. Statia pada pembuluh darah dan limfe akan mengakibatkan meningkatnya tekanan intrakaudal, yang akan memengaruhi segmen pada payudara, sehingga tekanan pada seluruh payudara meningkat. Akibatnya, payudara sering terasa penuh, tegang, serta nyeri. Kemudian di ikuti oleh penurunan produksi ASI dan penurunan let down. Penggunaan bra yang ketat juga bisa menyebabkan segmental engorgement, demikian pula putinh yang tidak bersih dapat menyebabkan sumbatan pada duktus.
b)      Gejala
Payudara yang mengalami pembengkakan tersebut sangat sulit di susui oleh bayi, karena kalang payudara lebih menonjol, puting lebih datar dan sulit di hisap oleh bayi, kulit pada payudara nampak lebih mengkilap, ibu merasa demam, dan payudara terasa nyeri. Oleh karena itu, sebelum di susukan pada bayi, ASI harus diperas dengan tangan atau pompa terlebih dahulu agar payudara lebih lunak, sehingga bayi lebih mudah menyusu.
c)       Penatalaksanaan
Penatalaksanaan yang dilakukan pada ibu yang payudara nya bengkak adalah sebagai berikut.
·         Masase payudara dan ASI di peras dengan tangan sebelum menyusui.
·         Kompres dingin untuk mengurangi statis pembuluh  darah vena dan mengurangi rasa nyeri. Bisa dilakukan selang-seling dengan kompres panas untuk melancarkan pembuluh darah.
·         Menyusui lebih sering dan lebih lama pada payudara yang terkena untuk melancarkan aliran ASI dan menurunkan tegangan payudara.
d)      Pencegahan
Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya pembengkakan pada payudara adalah sebagai berikut.
·         Apabila memungkinkan, susukan bayi segera setelah lahir.
·         Susukan bayi tanpa jadwal.
·         Keluarkan ASI dengan tangan atau pompa, bila produksi ASI melebihi kebutuhan bayi.
·         Melakukan perawatan pasca persalinan secara teratur.
3.       Saluran susu tersumbat
Berikut ini akan dijelaskan mengenai penyebab, gejala, penatalaksanaan, dan pencegahan saluran susu yang tersumbat.
a)      Penyebab
Hal-hal yang menjadi penyebab saluran susu tersumbat adalah sebagai berikut.
·         Tekanan jari ibu yang terlalu kuat pada waktu menyusui.
·         Pemakaian bra yang terlalu ketat.
·         Komplikasi payudara bengkak, yaitu susu terkumpul tidak segera dikeluarkan, sehingga terbentuklah sumbatan.
b)      Gejala
Gejala yang dirasakan adalah sebagai berikut.
·         Pada wanita yang kurus, gejalanya terlihat dengan jelas dan lunak pada perabaan.
·         Payudara pada daerah yang mengalami penyumbatan terasa nyeri dan bengkak yang terlokalisir.
c)       Penatalaksanaan
Saluran susu yang tersumbat ini harus dirawat, sehingga benar-benar sembuh, untuk menghindari terjadinya radang payudara (mastitis).
Adapun cara untuk merawat payudara adalah sebagai berikut.
·         Untuk mengurangi rasa nyeri dan bengkak, dapat dilakukan masase serta kompres panas dan dingin secara bergantian.
·         Bila payudara masih terasa penuh, ibu dianjurkan untuk mengeluarkan ASI dengan tangan atau dengan pompa setiap kali selesai menyusui.
·         Ubah-ubah posisi menyusui untuk melancarkan aliran ASI.
d)      Pencegahan
Pencegahan yang dapat dilakukan agar payudara tidak tersumbat adalah sebagai berikut.
·         Perawatan payudara pasca persalinan secara teratur, untuk menghindari terjadinya statis aliran ASI.
·         Posisi menyusui yang diubah-ubah.
·         Mengenakan bra yang menyangga, bukan yang menekan.
4.       Mastitis
Mastitis adalah radang pada payudara.
a)      Penyebab
Penyebab terjadinya mastitis adalah sebagai berikut.
·         Payudara bengkak yang tidak disusui secara adekuat, akhirnya terjadi mastitis.
·         Puting lecet akan memudahkan masuknya kuman dan terjadinya payudara bengkak.
·         Bra yang terlalu ketat mengakibatkan segmental engorgement, jika tidak disusui dengan adekuat, maka bisa terjadi mastitis.
·         Ibu yang dietnya buruk, kurang istirahat, dan anemia akan mudah terkena infeksi.
b)      Gejala
Gejala-gejala yang dirasakan adalah sebagai berikut.
·         Bengkak, nyeri pada seluruh payudara/nyeri lokal.
·         Kemerahan pada seluruh payudara atau hanya lokal.
·         Payudara keras dan berbenjol-benjol.
·         Panas badan dan rasa sakit umum.
5.       Abses payudara
Harus dibedakan antara mastitis dan abses. Abses payudara merupakan kelanjutan/komplikasi dari mastitis. Hal ini di sebabkan karena meluasnya peradangan dalam payudara tersebut.
a)      Gejala
Gejala yang dirasakan oleh ibu dengan abses payudara adalah sebagai berikut.
·         Ibu tampak lebih parah sakitnya.
·         Payudara lebih merah dan mengkilap.
·         Benjolan lebh lunak karena berisi nanah, sehingga perlu di inisiasi untuk mengeluarkan nanah tersebut.
b)      Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada klien dengan abses payudara adalah sebagai berikut.
·         Tekhnik menyusui yang benar.
·         Kompresi air hangat dan dingin.
·         Terus menyusui pada mastitis.
·         Susukan dari yang sehat.
·         Senam laktasi.
·         Rujuk.
·         Pengeluaran nanah dan pemberian antibiotik bila abses bertambah.
Bila terjadi abses, menyusui dihentikan, tetapi ASI tetap dikeluarkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

bebas bicara apa aja..